Nongkrong Inklusi Bersama Teman Kampus, UNBITA Perluas Pembelajaran Komunikasi Kesehatan melalui Kolaborasi Difabel

Oleh: Humas UNBITA | Tanggal: 30/10/2026 | dibaca 34 kali


Gorontalo — Program Studi Promosi Kesehatan Universitas Bina Taruna Gorontalo (UNBITA) berkolaborasi dengan Rangkul Asa Gorontalo, Gerkatin Gorontalo, dan Himpunan Difabel Muhammadiyah menyelenggarakan kegiatan “Nongkrong Inklusi Bersama Teman Kampus” di Heisei Cafe, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan ini merupakan integrasi mata kuliah Komunikasi Kesehatan Difabel berbasis pemberdayaan yang mempertemukan mahasiswa dengan komunitas difabel dalam ruang interaksi yang lebih terbuka dan setara.

Ketua Program Studi Promosi Kesehatan UNBITA, Sry Ade Muhtya Gobel, S.I.Kom., M.I.Kom., menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk membawa pembelajaran komunikasi kesehatan keluar dari ruang kelas. Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep komunikasi kesehatan difabel, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk memahami pengalaman, kebutuhan, dan keberagaman cara berkomunikasi melalui perjumpaan langsung.

“Komunikasi kesehatan difabel tidak cukup dipahami melalui teori. Mahasiswa perlu belajar berinteraksi secara langsung, mendengarkan pengalaman orang lain, dan memahami bahwa setiap individu memiliki kebutuhan komunikasi yang perlu dihormati. Melalui kegiatan ini, kami ingin pembelajaran di kelas terhubung dengan praktik nyata di masyarakat,” ujar Sry Ade.

Kolaborasi ini melibatkan Rangkul Asa, organisasi sosial yang berfokus pada isu inklusi disabilitas dan edukasi kesetaraan di Gorontalo, bersama Gerkatin Gorontalo dan Himpunan Difabel Muhammadiyah. Keterlibatan berbagai komunitas tersebut memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal perspektif yang beragam sekaligus memahami bahwa penyandang disabilitas perlu dilibatkan sebagai bagian aktif dalam percakapan, edukasi, dan kehidupan sosial.

Co-Founder Rangkul Asa, Nur Triska Awaliyah Lukum, S.H., menilai ruang perjumpaan seperti ini dapat membantu membangun pemahaman inklusi melalui pengalaman langsung. “Ketika mahasiswa dan teman-teman difabel bertemu dalam suasana yang terbuka, ada kesempatan untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, dan memahami satu sama lain tanpa sekat. Kesetaraan perlu dibangun melalui interaksi yang memberikan ruang bagi setiap orang untuk didengarkan dan dilibatkan,” ungkap Nur Triska.

Pemilihan format nongkrong di Heisei Cafe menghadirkan suasana yang lebih santai dibandingkan pembelajaran formal di kampus. Format ini membuka peluang bagi mahasiswa dan komunitas untuk membangun percakapan secara lebih cair, sehingga isu disabilitas dan kesetaraan dapat dibahas melalui pengalaman sehari-hari, bukan semata-mata sebagai materi akademik.

Menurut Sry Ade, pendekatan tersebut sejalan dengan pembelajaran berbasis pemberdayaan yang mendorong mahasiswa menghubungkan pengetahuan akademik dengan realitas sosial. “Kami ingin mahasiswa memahami bahwa komunikasi kesehatan yang baik bukan hanya tentang bagaimana menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana memastikan pesan dapat diakses, dipahami, dan disampaikan dengan menghormati kebutuhan orang yang menerimanya. Pengalaman langsung seperti ini menjadi bagian penting dalam membentuk kepekaan mereka,” katanya.

Dari perspektif komunitas, inklusi juga berkaitan dengan kesempatan untuk berpartisipasi secara setara dalam lingkungan pendidikan maupun ruang sosial. Kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dan komunitas difabel dapat menjadi titik awal untuk membangun hubungan yang lebih terbuka, mengurangi jarak dalam interaksi, serta mendorong pemahaman bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehidupan bersama.

Nur Triska menegaskan bahwa inklusi tidak berhenti pada kehadiran penyandang disabilitas dalam sebuah kegiatan, tetapi juga mencakup kesempatan untuk berpartisipasi dan menjadi bagian dari interaksi tersebut. “Yang penting bukan sekadar menghadirkan teman-teman difabel, melainkan memastikan mereka memiliki ruang untuk terlibat secara bermakna. Kolaborasi dengan lingkungan kampus seperti ini dapat membuka percakapan yang lebih luas tentang kesetaraan dan cara membangun ruang sosial yang ramah bagi semua,” tuturnya.

Baca juga: