GORONTALO – Universitas Bina Taruna Gorontalo mendorong mahasiswa untuk tidak berhenti menjadi penerima pengetahuan, tetapi mengambil peran sebagai agen perubahan dalam membangun generasi yang berkarakter, intelektual, dan terbebas dari penyalahgunaan narkoba. Pesan tersebut mengemuka dalam Kuliah Umum yang menghadirkan Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Gorontalo, Brigadir Jenderal Sri Bardiyati, S.Sos., M.Si., dengan tema “Mahasiswa sebagai Agen of Change: Transformasi Generasi Emas, Berkarakter, Intelektual dan Bersih dari Narkoba.”
Rektor Universitas Bina Taruna Gorontalo, Dr. Ellys Rachman, S.Sos., M.Si., mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam isu pencegahan narkoba tidak dapat ditempatkan hanya sebagai persoalan kepatuhan terhadap aturan, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab intelektual generasi muda. Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi strategis karena berada dalam lingkungan akademik yang memungkinkan mereka membangun kesadaran, memengaruhi lingkungan sosial, dan menyebarkan nilai positif di tengah masyarakat.
“Mahasiswa harus memiliki keberanian untuk mengambil posisi terhadap persoalan yang terjadi di lingkungannya. Ketika berhadapan dengan ancaman narkoba, mereka tidak boleh menjadi penonton. Mereka harus mampu menjadi bagian dari solusi melalui pengetahuan, keteladanan, dan sikap yang bertanggung jawab,” ujar Dr. Ellys Rachman.
Pandangan tersebut sejalan dengan penekanan Brigadir Jenderal Sri Bardiyati yang menempatkan mahasiswa sebagai kelompok strategis dalam upaya membangun ketahanan generasi muda terhadap penyalahgunaan narkoba. Ia menilai mahasiswa memiliki kapasitas intelektual sekaligus jejaring sosial yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pesan pencegahan di lingkungan kampus maupun masyarakat.
“Mahasiswa adalah agen perubahan. Karena itu, mereka harus memiliki pemahaman yang benar tentang bahaya narkoba dan mampu membawa pesan pencegahan kepada lingkungan sekitarnya. Generasi emas tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga harus memiliki karakter dan mampu menjaga dirinya dari narkoba,” kata Brigadir Jenderal Sri Bardiyati.
Penegasan tersebut membuat tema kuliah umum tidak berhenti pada penyampaian informasi mengenai bahaya narkoba. Mahasiswa diarahkan untuk melihat persoalan tersebut sebagai tantangan yang berkaitan dengan masa depan kualitas sumber daya manusia. Penyalahgunaan narkoba tidak hanya berdampak pada individu, tetapi berpotensi mengganggu proses pendidikan, produktivitas, relasi sosial, hingga kualitas generasi yang akan memegang peran strategis di masa depan.
Dr. Ellys Rachman menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membangun mahasiswa secara utuh, termasuk memastikan mereka memiliki daya tahan terhadap berbagai risiko sosial yang dapat menghambat masa depan. Karena itu, edukasi mengenai narkoba perlu ditempatkan dalam kerangka pembentukan karakter dan penguatan kapasitas mahasiswa.
“Perguruan tinggi tidak hanya bertugas membentuk mahasiswa menjadi orang yang memiliki kompetensi akademik. Kita juga harus membangun karakter dan daya tahan mereka menghadapi berbagai tantangan. Mahasiswa yang memiliki pengetahuan tetapi tidak memiliki keteguhan karakter akan mudah kehilangan arah ketika berhadapan dengan lingkungan yang berisiko,” ungkapnya.
Dari perspektif pencegahan, Sri Bardiyati menilai mahasiswa perlu dibekali kemampuan untuk mengenali risiko dan mengambil keputusan secara sadar. Menurutnya, lingkungan digital dan perubahan pola interaksi generasi muda membuat pendekatan pencegahan harus semakin adaptif, komunikatif, dan dekat dengan realitas kehidupan mahasiswa.
“Pencegahan harus dimulai dari kesadaran diri. Mahasiswa harus mampu mengenali lingkungan, memahami risiko, dan berani mengatakan tidak terhadap narkoba. Jangan sampai rasa ingin tahu, tekanan lingkungan, atau pengaruh pergaulan membuat masa depan yang sedang dibangun menjadi rusak,” tegasnya.
Pesan tersebut kemudian memperluas makna agen perubahan yang selama ini kerap dilekatkan pada mahasiswa. Menjadi agen perubahan bukan hanya berbicara mengenai kemampuan menyampaikan gagasan, tetapi juga keberanian menjaga nilai yang diyakini dan menunjukkan perilaku yang dapat menjadi contoh bagi lingkungan sekitar.
Dr. Ellys Rachman mengatakan mahasiswa UNBITA harus mampu menjadikan pengetahuan yang diperoleh dalam ruang akademik sebagai modal untuk memberikan pengaruh positif. Menurutnya, keberadaan mahasiswa di tengah masyarakat seharusnya dapat menghadirkan perubahan yang dimulai dari persoalan konkret, termasuk membangun lingkungan sosial yang lebih sadar terhadap bahaya narkoba.
“Kita ingin mahasiswa UNBITA memiliki keberanian untuk membawa nilai akademik ke tengah masyarakat. Kalau mereka memahami bahaya narkoba, maka pengetahuan itu jangan berhenti di ruang kuliah. Pengetahuan harus menjadi sikap dan kemudian menjadi tindakan yang memberikan pengaruh positif,” katanya.
Brigadir Jenderal Sri Bardiyati menambahkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam mempersempit ruang penyalahgunaan narkoba melalui lingkungan yang saling menjaga. Menurutnya, mahasiswa dapat menjadi penggerak terbentuknya budaya yang menolak narkoba tanpa harus menunggu persoalan tersebut terjadi di lingkungan mereka.
“Jangan menunggu ada korban baru kita bergerak. Pencegahan harus dilakukan bersama dan dimulai dari lingkungan terdekat. Mahasiswa dapat menjadi penggerak yang mengajak teman-temannya membangun lingkungan yang sehat, produktif, dan tidak memberikan ruang bagi penyalahgunaan narkoba,” jelasnya.
Bagi UNBITA, kuliah umum tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan ekosistem pendidikan yang menempatkan karakter, intelektualitas, dan kesadaran sosial sebagai satu kesatuan. Mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi juga mampu mengambil keputusan yang menjaga masa depan pribadi sekaligus memberikan dampak bagi lingkungan.
Dr. Ellys Rachman menegaskan bahwa generasi emas harus dipersiapkan sejak sekarang melalui pendidikan yang menggabungkan kompetensi dan karakter. Ia berharap mahasiswa mampu menjadikan momentum tersebut sebagai refleksi untuk memperkuat komitmen pribadi sekaligus mengambil peran dalam menciptakan lingkungan kampus yang sehat dan produktif.
“Generasi emas tidak lahir secara otomatis. Ia harus dipersiapkan melalui pendidikan, karakter, dan lingkungan yang mendukung. Karena itu, mahasiswa UNBITA harus berani menentukan masa depannya sendiri dan memastikan narkoba tidak menjadi bagian dari perjalanan tersebut,” pungkasnya.
Senada dengan itu, Brigadir Jenderal Sri Bardiyati menempatkan mahasiswa sebagai salah satu kekuatan penting dalam agenda pencegahan narkoba di Gorontalo. Ia berharap pesan yang disampaikan melalui kuliah umum dapat berkembang menjadi gerakan yang hidup di lingkungan mahasiswa, bukan sekadar berhenti sebagai materi yang didengar dalam satu kegiatan.
“Kalau mahasiswa bergerak, maka pesan pencegahan akan bergerak lebih jauh. Kami berharap mahasiswa tidak hanya memahami bahaya narkoba, tetapi mampu menjadi contoh dan menyampaikan pesan positif kepada lingkungan mereka. Dari mahasiswa, kita bisa membangun generasi yang lebih kuat, berkarakter, intelektual, dan bersih dari narkoba,” tutupnya.