Nama Bina Taruna telah lama dikenal sebagai simbol prestasi dan dedikasi di dunia olahraga, khususnya bulu tangkis, di wilayah Sulawesi Utara pada era 1980-an. Sebagai klub olahraga, Persatuan Bulutangkis (PB) Bina Taruna bukan sekadar wadah kompetisi, melainkan juga lambang kebanggaan masyarakat Manado. Keberhasilan klub ini dalam berbagai turnamen regional kala itu menyalakan semangat dan kebersamaan masyarakat, menjadikannya ikon yang melekat kuat di hati para pecinta olahraga.
Namun, kisah panjang Bina Taruna sejatinya dimulai lebih awal, tepatnya pada tahun 1979 di Kota Gorontalo. Klub ini didirikan oleh almarhum Ir. Awad Rachman, BRE., MRE., seorang birokrat visioner dan alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1971. Saat bertugas di Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Utara, beliau melihat potensi besar olahraga bulu tangkis sebagai sarana pembinaan generasi muda dan penggerak semangat daerah. Dengan dedikasi dan kerja kerasnya, PB Bina Taruna tumbuh menjadi salah satu klub paling disegani di kawasan tersebut. Banyak atlet binaannya berhasil menorehkan prestasi di berbagai ajang, bahkan beberapa di antaranya terpilih memperkuat tim Pra-Pekan Olahraga Nasional (Pra-PON) Sulawesi Utara — sebuah pencapaian yang menegaskan keberhasilan sistem pembinaan yang dirintisnya.
Puncak dedikasi itu terwujud pada tahun 1987, ketika Ir. Awad Rachman mendirikan gedung bulu tangkis representatif di Kota Gorontalo. Gedung tersebut bukan hanya tempat latihan, tetapi juga simbol komitmen terhadap pembinaan atlet muda berbakat yang kelak berkiprah di tingkat provinsi dan nasional. Dari sinilah, semangat Bina Taruna terus tumbuh — tidak hanya di arena olahraga, tetapi juga di ruang-ruang yang lebih luas: dunia pendidikan.
Menjelang masa pensiunnya, Ir. Awad Rachman menyalurkan semangat pembinaan tersebut ke ranah intelektual. Pada tahun 1992, beliau mendirikan Yayasan Pendidikan Bina Taruna Gorontalo, menandai babak baru perjalanan Bina Taruna: dari lapangan olahraga menuju kampus pendidikan tinggi. Visi besarnya tetap sama — mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun generasi berdaya saing.
Langkah pertama yayasan ini diwujudkan melalui pendirian Akademi Sekretari dan Manajemen Indonesia (ASMI) Bina Taruna Gorontalo, perguruan tinggi swasta pertama di Kota Gorontalo. Dengan dukungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ASMI membuka empat program studi Diploma Tiga yang berorientasi pada kompetensi profesional dan kebutuhan dunia kerja. Lulusannya kemudian tersebar di berbagai sektor pemerintahan dan swasta, berkontribusi bagi kemajuan daerah.
Keberhasilan ASMI menjadi pijakan kuat bagi yayasan untuk melangkah lebih jauh. Pada tahun 1999, berdirilah dua institusi baru: Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) dan Sekolah Tinggi Teknik (STITEK) Bina Taruna Gorontalo. Keduanya hadir untuk menjawab kebutuhan pendidikan tinggi berkualitas di bidang administrasi dan teknik — dua disiplin ilmu yang vital dalam pembangunan daerah. Dalam kurun waktu kurang dari dua dekade, STIA dan STITEK berhasil mencetak ribuan lulusan unggul dan menjadi pilihan utama masyarakat Gorontalo yang ingin menempuh pendidikan tinggi bermutu.
Seiring berjalannya waktu, cita-cita besar untuk menghadirkan Universitas Bina Taruna Gorontalo mulai dirumuskan. Sejak tahun 2002, Ir. Awad Rachman bersama para penerus Yayasan Bina Taruna menanamkan tekad kuat untuk mempersatukan seluruh potensi lembaga di bawah satu bendera universitas.
Cita-cita itu akhirnya terwujud pada April 2021, ketika melalui proses merger antara STIA dan STITEK Bina Taruna, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia secara resmi menetapkan perubahan status menjadi Universitas Bina Taruna Gorontalo (UNBITA). Momen bersejarah ini menjadi tonggak transformasi monumental dalam perjalanan panjang Bina Taruna — dari sebuah klub olahraga sederhana menjadi universitas yang berkomitmen mencetak generasi unggul, berkarakter, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Kini, Universitas Bina Taruna Gorontalo berdiri tegak sebagai kebanggaan masyarakat Gorontalo. Ia bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi cerminan perjalanan panjang dedikasi, visi besar, dan semangat tak kenal lelah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa — warisan abadi dari sosok visioner, Ir. Awad Rachman, BRE., MRE.