Mahasiswa Semester VI Program Studi Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Administrasi dan Ilmu Sosial Universitas Bina Taruna Gorontalo (UNBITA), melaksanakan kegiatan Pengabdian pada Masyarakat bekerja sama dengan Pemerintah Desa Oluhuta dengan mengusung tema “Penguatan Kapasitas Administrasi Pemerintah Desa dalam Implementasi Kebijakan Lingkungan Berkelanjutan.” Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengabdian yang mengintegrasikan penguatan kapasitas administrasi pemerintahan desa dengan pembangunan lingkungan berkelanjutan sebagai respons terhadap tantangan tata kelola desa di era pembangunan berbasis partisipasi masyarakat.
Dosen Pendamping kegiatan, Dr. Tety Thalib, S.AP., M.Si, menjelaskan bahwa penguatan administrasi pemerintahan desa menjadi aspek mendasar dalam mendukung efektivitas implementasi kebijakan lingkungan di tingkat lokal. Menurutnya, pembangunan lingkungan yang berkelanjutan membutuhkan tata kelola administrasi yang tertib, terukur, dan mampu mendukung proses perencanaan hingga evaluasi program pembangunan desa.
“Kebijakan lingkungan tidak cukup hanya dipahami secara konseptual, tetapi harus didukung oleh kapasitas administrasi pemerintahan desa yang baik agar implementasinya berjalan efektif dan berkelanjutan,” ujar Dr. Tety Thalib.
Penguatan kapasitas tersebut dinilai penting karena desa saat ini menjadi salah satu garda terdepan dalam implementasi pembangunan berbasis keberlanjutan. Oleh sebab itu, keterlibatan mahasiswa diposisikan bukan hanya sebagai bagian dari praktik akademik, tetapi juga sebagai kontribusi nyata dalam membangun sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa melalui pendekatan edukatif dan kolaboratif.
Kepala Desa Oluhuta, Ronal M. Sahrain, S.H., menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut dan menilai kolaborasi bersama perguruan tinggi mampu memberikan perspektif baru dalam penguatan tata kelola pemerintahan desa, khususnya pada aspek administrasi dan pengelolaan program lingkungan.
“Kehadiran mahasiswa dan dosen melalui kegiatan pengabdian ini sangat membantu pemerintah desa, terutama dalam memberikan pemahaman baru terkait tata kelola administrasi dan pengelolaan lingkungan yang lebih terarah,” ungkap Ronal M. Sahrain.
Sebagai implementasi dari tema yang diangkat, kegiatan pengabdian diisi dengan diskusi, edukasi administrasi pemerintahan desa, serta identifikasi tantangan implementasi kebijakan lingkungan berkelanjutan di tingkat lokal. Mahasiswa turut melakukan pendampingan sederhana terkait pengelolaan administrasi program lingkungan, dokumentasi kegiatan desa, hingga penguatan pemahaman mengenai pentingnya tata kelola berbasis data dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa.
Dr. Tety Thalib menegaskan bahwa mahasiswa administrasi publik harus memiliki kemampuan memahami dinamika kebijakan secara langsung di lapangan agar mampu menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah desa.
“Mahasiswa perlu dibiasakan untuk melihat bagaimana kebijakan publik diimplementasikan secara nyata, termasuk memahami tantangan administratif dan sosial yang dihadapi pemerintah desa,” jelasnya.
Pendekatan pembelajaran kontekstual tersebut dinilai mampu memperkuat kapasitas akademik mahasiswa sekaligus meningkatkan sensitivitas sosial terhadap persoalan pembangunan di tingkat desa. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran kolaboratif dalam membangun komunikasi dan kerja sama antara unsur akademik dan pemerintah desa untuk memperkuat kualitas pelayanan publik berbasis kebutuhan masyarakat.
Ronal M. Sahrain menyampaikan bahwa isu lingkungan menjadi perhatian penting pemerintah desa karena berkaitan langsung dengan kualitas hidup masyarakat serta keberlanjutan pembangunan desa ke depan. Menurutnya, penguatan administrasi dan tata kelola kebijakan lingkungan menjadi kebutuhan yang harus terus dikembangkan agar program pembangunan berjalan lebih efektif dan berdampak nyata.
“Pemerintah desa membutuhkan dukungan pengetahuan dan pendampingan agar kebijakan lingkungan yang dijalankan tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Melalui interaksi dan diskusi yang berlangsung selama kegiatan, mahasiswa juga memperoleh pengalaman kontekstual mengenai praktik administrasi publik di tingkat desa, sementara pemerintah desa mendapatkan dukungan pemikiran akademik dalam penguatan kapasitas kelembagaan. Sinergi tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi antara kampus dan desa memiliki peran penting dalam mendorong tata kelola pemerintahan yang lebih adaptif, partisipatif, dan responsif terhadap tantangan pembangunan. Dr. Tety Thalib menilai bahwa pengabdian masyarakat harus menjadi ruang aktualisasi keilmuan yang mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat dan pemerintahan desa.
“Perguruan tinggi harus hadir sebagai mitra pembangunan masyarakat. Karena itu, pengabdian seperti ini penting untuk membangun sinergi antara dunia akademik dan pemerintah desa,” katanya.
Sebagai penguatan terhadap kolaborasi tersebut, Ronal M. Sahrain berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan karena dinilai mampu membantu pemerintah desa dalam meningkatkan kualitas tata kelola administrasi dan pelaksanaan program pembangunan berbasis kebutuhan masyarakat.
“Kami berharap kerja sama seperti ini terus berlanjut karena sangat membantu desa dalam meningkatkan kualitas administrasi pemerintahan dan pengelolaan program pembangunan,” ujarnya.